Telah dijelaskan didepan bahwa garam dapur mengandung 40% natrium. Oleh karena itu, tindakan mengurangi garam juga merupakan usaha mencegah sedikit mungkin natrium masuk ke dalam tubuh. Suatu riset di Inggris menyebutkan bahwa rata-rata konsumsi garam orang Inggris sekitar 10 gram untuk pria dan wanita 7 gram. Namun kebanyakan warga Inggris hanya mengonsumsi separuhnya. Hal ini terbukti rata-rata tekanan darah warga Inggris tidak mengalami hipertensi. Mereka tidak suka menambahkan garam pada saat makanan siap dihidangkan di meja makan atau saat memasak. Mereka juga mempertimbangkan asupan garam yang diperoleh dari sayuran, buah-buahan, daging, roti, makanan kaleng, dan kudapan asin (kue kering dll).
Walaupun kandungan garam dalam makanan dan minuman sangat bervariasi, tetapi perlu diperhatikan saat seorang penderita berusaha mengurangi konsumsi garam. Garam tidak hanya terdapat pada masakan, tetapi juga pada makanan dan minuman yang menjadi menu makanan sehari-hari. Sebagai contoh pada 100 g roti terdapat 0,4 - 0,7 g garam; pada 100 g kudapan asin (misalnya kue kering) 0,5 - 1 g garam, dan pada 100 g buah segar terdapat 0,1 - 0,2 g garam.
Mengurangi konsumsi garam pada awalnya memang terasa sulit. Keadaan ini terjadi karena si penderita telah terbiasa dengan makanan berasa asin selama puluhan tahun. Tentu memerlukan usaha yang estra keras untuk mengurangi garam. Namun, umumnya hal ini berlangsung selama satu bulan keadaan menjadi sebaliknya, si penderita menjadi menyukai makan yang sedikit garam. Jika tiba-tiba si penderita merasakan makanan yang asin, ia akan merasakan makanan itu terlalu asin baginya. Jadi sekali lagi, ini hanya soal kebiasaan saja.
Bagi penderita hipertensi memang harus peduli pada dirinya sendiri. Hanya dirinyalah yang dapat mengendalikan asupan garam ke dalam tubuhnya. Jika mengurangi konsumsi garam ternyata signifikan dengan hipertensi harus benar-benar mempunyai niat dan semangat baja dalam menjalani diet rendah garam ini.